JABARONLINE.COM - Kematian tragis Agnes Nadila, perempuan muda yang ditemukan tak bernyawa di sebuah kamar kos di kawasan Warudoyong pada Sabtu malam, 6 Desember 2025, membuka kisah hidup yang tidak banyak diketahui. Di balik tubuh ringkih yang ditemukan polisi, tersimpan perjalanan panjang seorang yatim piatu yang bertahan hidup dari satu kerabat ke kerabat lain.
Keesokan harinya, 7 Desember 2025, wartawan mendatangi rumah keluarga besar korban di Palabuhanratu untuk meminta keterangan. Paman korban, Safari Gunawan (46), mengisahkan seluruh perjalanan hidup Agnes sejak kecil hingga hari-hari terakhirnya.
Menurut Safari, Agnes dibesarkan oleh nenek dari pihak ibunya sejak masih kecil hingga kelas 2 SMA. Nenek itu adalah satu-satunya orang yang merawatnya, karena Agnes sudah tidak memiliki ayah maupun ibu sejak usia sangat muda.
“Dia memang yatim piatu sejak lama. Nenek yang mengurus semuanya. Setelah neneknya meninggal, Agnes tidak punya siapa-siapa lagi di Cisolok,” terang Safari.
Setelah kehilangan pengasuh terakhir yang dimilikinya, Agnes kemudian berpindah ke rumah keluarga Safari di Palabuhanratu. Di sana ia melanjutkan sekolah hingga lulus, sambil menemani ibu Safari yang tinggal seorang diri. Keluarga juga membantu mengurus identitas kependudukan agar Agnes bisa memenuhi syarat melamar pekerjaan.
Usai tamat sekolah, Agnes sempat bekerja di Palabuhanratu sebelum memutuskan merantau ke Sukabumi. Ia pulang ketika libur, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu dekat tempat kerja.
Dalam masa itu, keluarganya mengetahui bahwa Agnes mengidap sakit paru-paru yang membutuhkan terapi jangka panjang.
Komunikasi terakhir tercatat pada 30 November 2025, ketika Agnes mengeluhkan kondisi fisiknya yang memburuk. Keluarga berulang kali memintanya pulang agar bisa berobat, namun pesan tersebut tidak lagi dibalas.
“Kami sudah sarankan balik ke rumah supaya bisa berobat enam bulan penuh. Tapi setelah tanggal 30 itu, dia tidak merespons lagi,” jelas Safari.



