JABARONLINE.COM - Dalam upaya memperkuat fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan, tokoh masyarakat sekaligus praktisi kebijakan publik, Uus Firdaus, secara tegas menekankan pentingnya arah kebijakan yang terfokus dan terukur bagi masa depan Kabupaten Sukabumi. Dalam sebuah pertemuan strategis yang dihadiri oleh berbagai elemen pemangku kepentingan di Sukabumi baru-baru ini, Uus memaparkan visi besarnya mengenai transformasi daerah yang tidak hanya mengandalkan pertumbuhan angka statistik, tetapi juga menyentuh aspek fundamental kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput. Menurutnya, tanpa fokus yang jelas, anggaran daerah yang terbatas hanya akan terserap pada program-program seremonial yang minim dampak jangka panjang bagi produktivitas warga.
Uus Firdaus menggarisbawahi bahwa Sukabumi saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial, di mana tantangan global dan nasional menuntut kesiapan daerah dalam beradaptasi. Ia menyoroti tiga pilar utama yang harus menjadi prioritas pemerintah daerah: penguatan infrastruktur konektivitas, pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui akses pendidikan serta kesehatan yang merata. Penekanan ini muncul sebagai respons terhadap dinamika sosial-ekonomi yang berkembang pesat, terutama dengan mulai beroperasinya berbagai proyek strategis nasional di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah kabupaten.
Dalam konteks infrastruktur, Uus menjelaskan bahwa konektivitas antarwilayah di Sukabumi masih menjadi kendala utama yang menghambat distribusi logistik dan aksesibilitas warga. Ia mendorong agar pembangunan jalan-jalan kabupaten tidak lagi dilakukan secara parsial atau sekadar tambal sulam. Sebaliknya, diperlukan sebuah cetak biru (blueprint) pembangunan jalan yang terintegrasi, yang menghubungkan pusat-pusat produksi pertanian dan destinasi wisata dengan jalur distribusi utama. "Infrastruktur adalah urat nadi ekonomi. Jika aksesibilitas terhambat, maka biaya ekonomi tinggi akan terus membebani petani dan pelaku UMKM kita. Kita butuh fokus pada ketuntasan pembangunan jalan yang berkualitas tinggi dan tahan lama," tegas Uus dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, sektor ekonomi kerakyatan menjadi perhatian serius dalam visi yang diusung oleh Uus Firdaus. Ia berpendapat bahwa kekayaan alam Sukabumi yang melimpah, mulai dari sektor pertanian, perikanan, hingga pariwisata, belum terkelola secara maksimal untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal. Uus mengusulkan adanya hilirisasi produk-produk unggulan daerah. Sebagai contoh, hasil pertanian tidak boleh lagi hanya dijual dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah, melainkan harus diolah terlebih dahulu di Sukabumi agar menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Hal ini memerlukan intervensi pemerintah dalam bentuk penyediaan teknologi tepat guna dan kemudahan akses permodalan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain pembangunan fisik dan ekonomi, Uus Firdaus memberikan catatan tebal pada pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Di era digitalisasi ini, ia memandang bahwa masyarakat Sukabumi, terutama generasi muda, harus dibekali dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa depan. Pendidikan vokasi yang bekerja sama dengan sektor industri menurutnya adalah solusi konkret untuk menekan angka pengangguran di daerah. Ia juga menekankan bahwa fokus pada kesehatan masyarakat, terutama penanganan stunting dan peningkatan layanan puskesmas, merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar. Baginya, pembangunan yang hebat tidak akan berarti jika kualitas hidup masyarakatnya masih berada di bawah standar kelayakan.
Menanggapi pandangan Uus Firdaus, sejumlah pakar kebijakan publik menilai bahwa apa yang disampaikan merupakan refleksi dari kebutuhan mendesak daerah. Dr. Hendra Gunawan, seorang pengamat ekonomi regional, menyatakan bahwa konsistensi dalam menentukan prioritas anggaran adalah kunci keberhasilan otonomi daerah. "Apa yang ditekankan oleh Uus Firdaus mengenai fokus pembangunan adalah hal yang sangat relevan. Banyak daerah terjebak dalam pola penganggaran yang tersebar terlalu luas sehingga tidak ada satu pun sektor yang benar-benar mengalami kemajuan signifikan. Fokus pada beberapa sektor unggulan akan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang lebih besar," ujar Dr. Hendra saat dihubungi secara terpisah.
Uus juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan setiap program pembangunan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya roda pemerintahan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat sipil adalah prasyarat mutlak untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan melayani. "Fokus kita bukan hanya pada apa yang ingin dibangun, tetapi juga bagaimana cara membangunnya. Integritas dalam penggunaan anggaran negara adalah harga mati jika kita ingin melihat perubahan nyata di Sukabumi," tambahnya dengan nada optimis.
Tantangan geografis Sukabumi yang luas dengan topografi yang beragam diakui Uus sebagai hambatan yang nyata. Namun, ia melihat hal tersebut sebagai peluang jika dikelola dengan strategi mitigasi bencana yang tepat. Ia mendorong agar setiap pembangunan infrastruktur di Sukabumi juga mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Pembangunan yang merusak alam, menurutnya, hanya akan mendatangkan bencana di masa depan yang justru akan menelan biaya pemulihan yang jauh lebih besar daripada keuntungan ekonomi sesaat yang didapat. Oleh karena itu, konsep pembangunan hijau (green development) harus mulai diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Dalam sesi penutup diskusinya, Uus Firdaus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menanggalkan ego sektoral dan mulai bekerja secara kolaboratif. Ia percaya bahwa Sukabumi memiliki potensi untuk menjadi salah satu kabupaten termaju di Indonesia jika dipimpin dengan visi yang jelas dan komitmen yang kuat terhadap kepentingan publik. "Kita tidak kekurangan sumber daya, kita hanya perlu lebih fokus dalam mengelola apa yang kita miliki. Saatnya kita berhenti bekerja secara sporadis dan mulai melangkah secara terstruktur menuju Sukabumi yang lebih sejahtera dan mandiri," pungkasnya.



